AllKhazanah

Kitab Al-Hiyal dan Hidup yang Lebih Praktis

KRAMAT49 NEWS, Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 sampai abad ke-14 M), ditandai oleh lahirnya berbagai gagasan brilian dari para ilmuwan Muslim terhadap ilmu pengetahuan. Ini dilandasi oleh dorongan Islam kepada umatnya agar berusaha keras mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan Muslim yang berkontribusi besar bagi sejarah pemikiran umat manusia kala itu mencakup filsuf, dokter, fisikawan, hingga astronomer. Tak hanya ilmuwan yang berperan, tapi juga para penguasa Muslim yang rela mengeluarkan biaya besar untuk membangun perpustakaan, membiayai penelitian para ilmuwan, serta mendanai penerjemahan buku-buku pengetahuan penting dari bahas asing ke bahasa Arab.

Di antara berbagai karya ilmiah di bidang kedokteran, filsafat dan astronomi yang selama ini sudah cukup dikenal, ada bidang lain yang juga berkembang kala itu, namun tergolong jarang disebut orang. Yang dimaksud di sini adalah mekanika, atau ilmu tentang energi, kekuatan dan gerakan. Di sini dipelajari tentang bagaimana benda-benda di sekitar kita bergerak serta bagaimana mengaplikasikan gerakan secara praktis.

Ada tiga nama yang patut disebut ketika kita bicara tentang kontribusi ilmuwan Muslim pada ilmu pengetahuan. Hidup di abad 9 M, ketiganya masih bersaudara, dan dikenal sebagai Banu Musa. Namanya adalah Muhammad, Ahmad, dan al-Hasan. Ayah mereka bernama Musa bin Shakir, seorang teman dari al-Ma’mun. Al-Ma’mun sendiri merupakan putra Kalifah Harun al Rasyid yang terkenal itu.

Di masa mudanya Musa bin Shakir dikenal sebagai penyamun di jalanan Khurasan, tapi kemudian dia beralih menjadi seorang ahli astronomi sekaligus ahli nujum. Musa mengirim ketiga anaknya ke bayt al-hikma (rumah kebijaksanaan) yang masyhur sebagai pusat intelektual di Bagdad. Di sana ketiga anak ini belajar, dan kemudian menguasai, berbagai cabang ilmu alam seperti geometri, astronomi, dan alat-alat pintar (hiyal). Di samping itu, mereka juga berlatih memainkan musik.

Walaupun demikian, masing-masing di antara mereka punya keahlian khusus. Muhammad menguasai geometri dan astronomi, sementara Ahmad ahli di bidang mekanika. Adik paling bungsu, al-Hasan, mumpuni di bidang geometri. Pengetahuan dan keterampilan mereka semakin terasah karena mereka diberi berbagai macam fasilitas oleh para khalifah Abbasiyah, mulai dari al-Ma’mun (memerintah 813-833), al-Mu’tasim (833-842), al-Wathiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861).

Ada juga di antara mereka yang terlibat dengan proyek di lapangan, seperti pembangunan kanal-kanal air di kota. Di samping itu, mereka juga menulis beberapa buku ilmiah. Misalnya, di bidang matematika mereka menulis Kitāb ma’rifat masāhat al-ashkāl al-basīta wa ‘l-kuriya (yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Book of the Measurement of Plane and Spherical Figures).

Mereka juga mempunyai sebuah karya di bidang mekanika, yang membuat nama mereka terkenal. Judulnya Kitāb al-hiyal (The Book of Ingenious Devices atau Buku tentang Alat-Alat yang Pintar). Yang berperan paling penting di buku ini adalah Ahmad, yang memang dikenal sebagai seorang mekanik. Sesuai dengan judulnya, buku ini memusatkan perhatian pada berbagai instrumen yang kreatif sekaligus bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Mengingat di zaman itu teknologi belum semaju seperti di masa kini, alat yang mereka bayangkan dan buat tampak sangat janggal. Di buku itu mereka tidak hanya menjelaskan tentang jenis alatnya, cara kerja serta fungsinya, tapi juga menyertakan gambar-gambar yang menarik. Ada sekitar seratus instrumen mekanik yang disajikan di buku ini.

Sebagaimana karya ilmiah pada umumnya, konten buku ini merupakan kompilasi bahan kajian lama sekaligus pemikiran orisinal penulisnya. Tiga bersaudara ini memakai beberapa ahli kuno untuk referensi mereka, yaitu ahli matematika Hero dari Alexandria (dengan bukunya, Pneumatics dan Mechanics) serta insinyur Yunani, Philon, dan matematikawan klasik terkenal Archimedes.

Para pengamat sejarah teknologi Islam berpendapat bahwa kekuatan utama buku ini bukanlah pada teori-teorinya tentang matematika, geometri maupun mekanika, melainkan pada aplikasinya dalam membantu manusia untuk hidup dengan lebih efisien. Oleh sebab itu, Banu Musa memberi atensi besar pada desain serta cara bekerja alat, dan bukan menjelaskan soal abstraksi dari suatu fenomena alam atau teknik.

Alat-alat yang mereka sebutkan di buku tersebut bisa dibagi ke dalam beberapa tipe. Pertama, peralatan yang berkaitan dengan cahaya, misalnya alat-alat untuk membuat lampu minyak. Kedua, peralatan yang berkaitan dengan suatu sistem yang bisa mengontrol secara otomatis.

Ketiga, yang paling signifikan, peralatan yang berkaitan dengan bagaimana mengelola air. Ini mencakup alat untuk mengantarkan air panas dan air dingin, sifon (pipa penyalur air) konsentris hingga alat untuk menggali sumur. Di buku ini juga dijelaskan tentang cara membuat air mancur, prinsip kerja alat yang dipakai, serta informasi tentang bagaimana air akan mengalir dan pada akhirnya menyembur. Penjelasannya memakai istilah-istilah teknis, seperti pipa, tekanan air, aliran air, dan corong. Turut disertakan pula gambar air mancurnya, yang mirip lily (bunga bakung).

Mengingat terkenalnya buku ini di Abad Pertengahan Islam, ada sejarawan yang menyebut tentang kemungkinan sampainya buku ini kepada para sarjana Spanyol. Dari tangan mereka bisa jadi buku ini tersebar hingga ke bagian Eropa lainnya, dan membantu para ilmuwan Eropa untuk membangun ilmu pengetahuan dan aplikasi mekanika mereka sendiri.

Di masa yang belakangan, buku ini diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Pertama, ke dalam bahasa Jerman (oleh Eihard Wiedemann dan Friedrich Hauser), dan kedua, ke dalam bahasa Inggris (oleh Donald R. Hill). Sebagian di antara alat yang digambarkan dalam buku itu menjadi dasar untuk membangun alat-alat yang dipakai manusia di zaman modern, berabad-abad setelah buku itu terbit.

Azhar Rasyid, Penilik sejarah Islam

sumber SM

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Articles

Back to top button